Posted 1 week ago

Sebut saja mawar!

Saya suka berjalan malam hari sendiri, melihat atap dunia yang bernamakan langit. Ini bukan karena saya suka dunia astronomi, sejujurnya bahkan saya kurang paham tentang hal itu. Hanya saja, saya selalu terpesona dengan salah satu makhluk ciptaanNya itu. 

Begitu tinggi, dan terlihat begitu misterius. Saya selalu penasaran dengan ujung dari ketinggian langit malam. Entahlah, di situ kah Arsy-Nya terletak? Sepeti apa limit dari langit itu, bagaimana lapisannya? Begitu seksama saya melihatnya, dan seribu pernyataan muncul dibenak saya. 

Kita tak pernah tau apa yg ada dibalik lapis langit ketujuh. Bahkan jika dengan kecanggihan teknologi secanggih apapun langit lapis pertama pun belum tentu kita kuasai. 

kita tak pernah tau ujung-ujung dari bingkai langit. Bahkan dengan pesawat tercanggih pun tak akan mungkin bisa menyusurinya. 

Yang kita bisa hanya menerka dengan teori-teori keilmuan kita. Yang kita bisa hanya berhipotesis dengan batas akal kita. Yang kita bisa hanya menganalisis dengan batas fantasi dan imajinasi spatial yang kita punya. 

Seperti hidup, yang begitu misterius. Berlapis-lapis takdir yang saling menutupi takdir lainnya. Kita tertawa hari ini, mana tahu besok kita menangis tersedu-sedu. Kita terpuruk hari ini, mana tahu besok kita berdiri penuh kebanggaan. 

Seperti hidup yang tak pernah kita tahu batas limitnya, yang tak pernah bisa kita ukur dimana ujungnya. Entah besok, atau bulan depan, atau tahun depan akhirnya. Yang bisa kita lakukan hanya melakukan amal terbaik semaksimal kapabilitas yang kita miliki. 

Karena Hidup seperti langit, indah, misterius, dan tak terketahui ujungnya. 

Saya ga tau tulisan macam apa ini, jadi sebut saja mawar! 

:)

Posted 3 weeks ago

terasa tertampar.

Senja itu, tak sengaja ku baca sebuah postingan foto dengan caption..

”Masih pura-pura rindu Ramadhan :’(”

do you feel like, you just do the same?

apakah kata-kata rindu itu benar-benar tulus keluar dari hatimu, atau kah masih ”hanya” sebuah kepura-puraan. 

benarkah kau merindukannya?

jika iya, buktikan. amalan apa yg membuktikan bahwa kau mengistimewakannya, akankah Ramadhan ini lebih baik dari yang kemarin? atau hanya berlalu dengan kesia-siaan. 

Be honest, karna kejujuran adalah awal dari tercatatnya amal, awal dari sebuah keikhlasan niat.. ga hanya dalam hal ini

tapi segalanya..

Posted 3 weeks ago

Happy Milad Sahabat!

imehchibi:

Aku pandangi langit malam ini, dari Dangdeur, Rancaekek. Aku melihatnya! Rasi bintang Orion! Aku rindu pada kalian.
Hari ini, umurmu bertambah tetapi usia hidupmu berkurang kawan. Jatah waktu mu membuktikan pada Sang Maha Pemilik Waktu bahwa kamu hanya menyembahNya.
Aku rindu, sebagaimana…

it’s been past, but you know, this is the sweetest love letter that i have. really.. !

ga pernah bosen gue baca kata-kata manis ini, lo tau gue ga suka manis, but this is the only exception :)

Posted 1 month ago

Mendefinisikan Ulang Orientasi Hidup.

I don’t know how to start it, but I just wanna share it.

It’s about ‘’Life Orientation behind The Success Man’’. Yang menurut saya kesuksesan beliau itu absolute, lintas masa, dunia-akhirat.

Beberapa hari yang lalu saya dan teman-teman se-gank mengadakan agenda rutinan kongkow bareng sambil cari ilmu, yang biasa kita sebut ‘’Glass’’, kependekan dari G Class. Intinya acara itu adalah wadah kami cari ilmu diluar ilmu perkuliahan yang menurut kami penting dipelajari sebagai bekal hidup. Kita bisa bahas apapun disana sesuai yang kita inginkan, dari mulai politik, public speaking, social media, dan hal-hal lainnya.

Oke singkatnya kongkow kemarin kita ambil tema besar tentang Enterpreunership, berangkat dari resahnya kita sama anak-anak sekarang yang dengan bangga, pentantang-petenteng bergaya, padahal masih pake duit ortunya, karena buat kita pemuda keren itu, ya yang udah bisa berdiri tegak diatas kakinya sendiri.

… 

Maybe it sounds mainstream when I talk the big topic is Enterpreneurship. Yah mungkin udah banyak yang mengangkat topic ini, bahkan di banyak forum-forum lain diluaran sana. Tapi ada pelajaran lain yang saya tangkap secara Implisit disini, ini tentang Orientasi Hidup.

Jangan pikir kelas ini isinya seminar motivasi ya! Nope. Materinya murni tentang bisnis.

Kekaguman pertama saya dimulai saat saya melihat sesosok ayah yang juga pengusaha besar yang sederhana, gaya bicaranya asik dan sampai ke hati. Tak ada sedikit pun nada kesombongan meskipun beliau adalah pengusaha sukses dengan puluhan bisnisnya, mulai dari pengusaha ternak, pengusaha property, media TV, dan salah satu perusahaannya yang cukup ternama, Rumah zakat. Can you guess who is he?

He is, Abu Syauqi, begitu lah sapaan beliau sehari-hari (Nb: abu itu ayah, karena anaknya bernama syauqi jadi beliau dipanggil Abu syauqi yang berarti ayahnya syauqi).Kalau Abu sudah ngomongin strategi bisnis, how to start it, how to build it, how to maintain it, how to develop it, and how to how to lainnya udah ga diragukan lagi. Teori-teorinya begitu cerdas dan realistis. Belum lagi cerita tentang tokoh-tokoh besar dunia bisnis, tentang mentor-mentor beliau seperti Sandiago uno yang sudah tidak diragukan lagi eksistensinya di bidang ini. Yang jelas itu semua cukup membuat saya ingin segera praktek (Nyobain bisnis).

Singkat cerita, saya dapat banyaaaaak sekali ilmu tentang dunia per-Bisnis-an ini.

Tapi ada satu plot cerita yang cukup menyadarkan saya tentang hidup-hidup saya sebelumnya. Cerita awal mengapa Abu memutuskan untuk berbisnis. Ini bukan soal ambisi buta untuk menjadi seseorang yang besar, sukses, eksis atau apapun. Sekali lagi, Bukan.

Ini soal orientasi hidup seseorang yang visioner dan berpikiran panjang. Visioner disini bukan tentang menjadi apa di masa depan nanti, tapi bekal dan pengabdian apa yang kita siapkan di hadapan Allah nanti.

How come? Apa nyambungnya sama jadi pengusaha sukses?

Okay, let me begin the story.

Abu cerita tentang awalnya memulai bisnis, dulu beliau bukan apa-apa, beliau memulai semuanya dari minus (bukan nol). Dulu beliau adalah seorang pengemban dakwah yang militan, seluruh orientasi hidupnya adalah tentang Allah. Dari beliau muda, hampir seluruh aktivitasnya diisi untuk mengisi pengajian, halaqoh (Read: pengajian skala kecil) dan agenda-agenda kebaikan lainnya. Sampai-sampai beliau menikah dan memiliki keluarga. Dari situ beliau mulai memikirkan bagaimana mencari nafkah. Seluruh keluarga mulai menawarkan beberapa pekerjaan untuk beliau. Dan itu bukan pekerjaan yang ‘’ecek-ecek’’. Ayahnya adalah seseorang yang memiliki jabatan disebuah Bank ternama. Ayahnya mulai menawarkan jabatan di bank tersebut. Tapi beliau menolak.

Lalu pamannya juga menawarkan pekerjaan lain di perusahaan lainnya (lupa lagi), tapi beliau juga menolak. Begitu pula dengan anggota-anggota keluarga lainnya yang juga menawarkan peluang pekerjaan lainnya, yang pada akhirnya pun ia tolak.

And you know what the basic reason of those denials is?

Semua penolakan itu hanya karena, semua pekerjaan tersebut habis memakan waktunya untuk berdiam di kantor. ‘’Lalu kapan saya bisa mengisi pengajian, mengisi halaqoh?’’, ujar beliau.

(Seketika saya lumer kaya es yang dipanggang sinar matahari jam 12 siang mendengarnya, ok ini lebay)

Dan sejak saat itu beliau memutuskan untuk mulai mencari pekerjaan yang bebas dan tak membuang banyak waktu. Beliau tak pernah sengaja berniat untuk berbisnis. Tapi Allah temukan seribu cara untuk menemui pattern kesuksesannya.

Saat itu beliau tak sengaja memulai berinvestasi dengan membeli angkot dengan teman-temannya, waktu itu beliau hanya bersaham 30% itu juga dengan meminjam uang salah satu murid ngajinya. Tapi dengan izin Allah semakin lama semakin besar  usahanya hingga ia memiliki 7 angkot dan 1 bus. Dan lama-kelamaan usahanya dalam berbagai lini semakin menjamur dan berkembang hingga seperti saat ini. (Bahkan seandainnya kerjaan beliau sekarang cuman nonton sinetron dirumah, omzet ratusan juta bahkan milyaran pun tetap masuk ke rekeningnya). 

And another Humble statement from him,

‘’Ini semua bukan karena apa-apa, ini semua merupakan berkah dari Dakwah’’

Semua cerita ini sukses membuat saya berevaluasi diri, sejauh ini orientasi apakah yang saya miliki untuk mengambil keputusan-keputusan hidup?

Apakah sudah berorientasi padaNya?

Kembali lagi saya mengingat orientasi orientasi hidup yang klise, untuk apa kuliah? Biar sukses. Buat apa ikut orgaanisasi? Untuk menambah pengalaman. Untuk apa lulus? Biar dapat pekerjaan dan hidup mapan. Target-target hidup kedepan? Mau punya rumah, mobil, sukses, jadi orang kaya dan cita-cita mainstream lainnya. Semua kembali pada orientasi pribadi, yang hanya menguntungkan diri sendiri.

Hai, pantas saja Allah kasih hidup yang begini-begini saja. Coba perbaiki lagi orientasinya. Ini mengingatkan saya akan sebuah hadits Rosul SAW, beliau bersabda:

Barang siapa yang akhirat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup didalam hatinya serta mempermudah urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan patuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya, Allah akan menjadikan kefakiran berada didepan matanya serta mencerai beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekadar apa yang telah ditetapkan baginya”. (HR Tirmidzi)

Jelaslah sudah, kembali lagi saya menata orientasi hidup. Jika Allah telah menjadi orientasi utama di tiap keputusan hidup yang kita ambil, ga perlu risau.

Ini bukan soal tidak perlu mengejar dunia, bukan itu, dunia itu penting. Tapi biarlah dunia yang mengejar kita dengan perbaikan-perbaikan orientasi hidup kita.

Percayalah, jajiNya itu pasti. Satu langkah kecil kita menolong agamaNya, seribu langkah besar Allah memudahkan urusan-urusan kita.

Sekarang ga ada lagi alasan ga bisa, sibuk masih bikin skripsi untuk agenda-agenda kebaikan. Ga ada lagi nolak – nolak amanah untuk alasan – alasan pribadi. Ga ada lagi korup waktu sholat, waktu tilawah, waktu tahajud untuk nurutin hawa nafsu (Read: leha-leha).

Biarlah kita menuai berkah dari hal-hal baik itu. Kerjakan hal apapun sebaik-baiknya, perbaiki lagi orientasinya.

Sisanya biarlah Allah menolong dengan ‘’TanganNYa’’

 *Ga usah risau soal skripsi, selama masih menjalani semuanya dengan seimbang, dan tidak saling menzolimi, santai aja. Soon, His Promise will comes*

#catatanrandommahasiswatingkatakhir

 

Posted 2 months ago

Langkah yang kamu ambil ga mesti sama dengan langkah orang lain, jangan mudah tergiur semua orang punya jejak langkahnya masing-masing

Prestasi yang kamu ukir ga mesti se”keren” orang-orang itu, keren dimata manusia itu relatif, keren di mata Allah mutlak, hanya Keimanan parameternya

Takdir yang kamu jemput ga mesti lewat jalan yang sama dengan dengan orang-orang itu, jemput takdir-mu sendiri, hanya kamu yang benar-benar tau jalan apa yang paling baik untuk dirimu dengan segala Potensi unik dariNya

Ubah parametermu, ubah pandanganmu, ubah paradigmamu. Kacamata dunia tak akan pernah habis. Selalu haus akan pujian, sanjungan, dan kekaguman dari orang lain.

Jadikan DIA satu-satunya pacuan hidup untuk menjadi yang lebih baik.

And finally, Jemput Takdirmu Sendiri

#everyoneisspecial #Me #Random
Posted 2 months ago

Mengambil langkah mundur, bukan berarti sebuah “Kemunduran”

I think you can take a step back when you feel tired enough, don’t push yourself!

Karena mengambil langkah mundur belum berarti sebuah kemunduran. Seperti atlet lompat jauh yang mengambil ancang-ancang. Saat kamu mundur, kamu sdg mempersiapkan ancang-ancang untuk langkah yang lebih besar. This exactly what I feel. Saat benar-benar merasa lelah, jenuh dengan semua beban, saat merasa semua pihak dan amanah menuntut apapun dari kita.

Then i decide to take a step back, but actually I prepare for greater steps forward.

I just remember my big dream.

image

Tak ada Surga tanpa lelah dan pengorbanan. 

Be ready for another life challenges? 

Yes i am. 

Posted 3 months ago
No, You don’t have to be that “Cool” person.
All the things that you need is, be a 100% you. And take a role with yours.
Just believe everyone is awesome, but not everyone can see it.
#Randomthought #Me
Posted 3 months ago
Posted 3 months ago

Keep calm, ga usah cemas, besok cuma UN.
Satu dari sekian banyak fase hidup “panjang” kita. Ga perlu ngorbanin kejujuran dan hati nurani, cuma untuk sebagian kecil dari kehidupan kita ini.

Justru disini lah tantangannya.
Lebih takut dapet nilai jelek atau mempertanggungjawabkan kecurangan kita sama Allah nanti?

I know you can do it, even without cheat.

Lil’ notes for you my lil’ bro, Sholahuddin assyamil.
Posted 3 months ago

Ya Rabb, aku malu.

Ya Rabb aku malu jika ku ingat kisah-kisah Nabi-nabi dan RosulMu, yang tak pernah lelah menyiarkan agamaMu pagi dan malam, kemana saja waktuku habis? 

Ya Rabb aku malu jika disandingkan dengan wanita-wanita mulia penggenggam FirdausMu, Aisyah ra, Khadijah ra, Sumayyah, Asma, dan wanita-wanita lainnya. Yang tak pernah takut dengan apapun yang menghalanginya demi tegaknya dakwah ini. Bahkan dengan cacian dan perkataan orang lain pun aku sudah ragu… 

Ya Rabb aku malu jika melihat bocah-bocah penghafal qur’an di Palestina sana. Mereka sudah menghafal 30 juz al-qur’an dalam usia rata-rata 7 tahun. Bagaimana dengan hafalanku? Mempertahankannya saja sulit apalagi menambahnya… 

Ya Rabb aku malu jika melihat segelintir orang yang begitu hebat, yang begitu luas pemikirannya, yang begitu memikirkan banyak kepentingan orang lain, yang begitu banjir pujian dari orang lain tapi begitu rendah hati dan tawwadu. Sedangkan aku, baru dipuji/dikagumi sedikit saja sudah merasa tinggi… 

Ya Rabb aku malu jika melihat sebagian dari hamba-hambMu yang begitu banyak berkorban untuk agamaMu dan negeri ini. Mereka korbankan segalanya untukMu, waktu, tenaga, harta, keluarga bahkan nyawanya. Sedangkan aku baru berbuat sedikit saja sudah merasa besar.

Ya Rabb aku malu dengan amalanku yang begitu sedikit, jiwaku yang begitu sempit, pengorbananku yang begitu pelit, waktuku yang terlalu banyak terbuang sia-sia. 

Begitu tak ada apa-apanya diri ini jika disandingkan dengan orang-orang Hebat di luar sana, dengan para Sahabat dan shahabiyah, apalagi dengan para Nabi dan Rasul Mu Ya Rabb. 

Tak ada satu celah pun diri ini untuk merasa Bangga dan Besar, jangan biarkan ada setitik kesombongan itu terbesit di hati ini. 

Biarkan rasa malu ini senantiasa menghiasi cela demi cela yang ada. 

Ya, aku hanya berhak malu pada Mu, yang senantiasa tanpa henti memberikan nikmatMu pada ku. Meski hanya sedikit yang bisa ku persembahkan untukMu 

ya Rabbi…